KETAHUILAH, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. QS 57:20
Keluargaku, mari renungkan bagaimana kita menyikapi hidup kita ini. Bukankah sinyalemen Allah diatas lah yang terjadi? Kita selalu menginginkan berbangga dengan kemegahan, kita juga selalu takjub dengan kemewahan. Tetapi kita juga menyaksikan banyak contoh bahwa kebanggaan duniawi dan kemewahan ini kemudian hancur, seperti tanaman yang menguning, kering, lalu musnah. Kemudian kelak di akhirat, Allah menyediakan dua pilihan: siksa yang keras, atau ampunan dan ridha Nya. Siksa yang keras bagi manusia yang benar-benar lalai; dan ampunan serta ridha Allah bagi yang sadar diri sebelum terlambat.
Adapun tentang harta dan kemewahan dunia yang selama ini kita nikmati, akan dipertanyakan: darimana asalnya, untuk apa dibelanjakan; apakah ada bagian dan hak orang lain yang kita ambil dan kita nikmati. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). QS 102:8
Sungguh, harta dunia ini sangat pantas menyebabkan ketakutan bagi kita yang menikmatinya. Karena nikmat dunia ini sungguh melalaikan dan menipu. Maka bagi yang lalai, kerugian besar berupa siksa yang sangat pedih telah menanti. Mari kita berlindung kepada Allah dari yang demikian…
PADAHAL ALLAH MENGAJARKAN, bila kita hendak berlomba-lomba, maka inilah perlombaan yang diperintahkan:
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. QS 57:21
CONTOH TERBAIK
Tahukah kita siapa manusia yang paling mulia yang pernah ada di dunia – yang telah dijamin surga yang tertinggi untuknya? Dialah manusia yang paling taqwa, yang menjadi teladan bagi kita, Rasulullah SAW, pembawa risalah Islam yang sempurna.
Beliau mencontohkan dan mengajarkan kesederhanaan hidup. An-Nukman bin Basyir ra, seorang sahabat beliau, menceritakan, bahwa Umar bin Khaththab ra berkata:
“Sungguh saya melihat Rasulullah SAW, kadang-kadang sehari penuh tidak mendapatkan makanan walaupun hanya kurma yang paling buruk untuk mengisi perutnya” (HR Muslim).
Terbayangkah kita akan kehidupan manusia yang paling mulia ini, bagaimana beliau berjuang dengan sangat teguh, beribadah dengan cara yang terbaik, juga menyayangi umatnya dengan sepenuh hati agar terhindar dari kecelakaan di akhirat. Seorang yang sangat dihormati, namun tidak memiliki kurma untuk mengisi perutnya? Bagaimana keadaan kita saat ini?
Tetapi justru inilah contoh manusia yang tidak dapat tertipu, manusia yang cerdas, yang mampu memilih jalan mana yang akan menyelamatkan, dan menghindari jalan yang nampak penuh kenikmatan namun justru mencelakakan. Beliau berpesan kepada para sahabatnya dan juga kepada kita orang beriman:
“Demi Allah, tidaklah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu, tetapi aku khawatir kalau-kalau kekayaan dunia ini dihamparkan, sebagaimana dihamparkan atas orang-orang sebelum kalian, lalu akan berlomba-lomba pada kekayaan, sebagaimana mereka, dan kemudian kekayaan itu akan membinasakan kalian, sebagaimana mereka.” (HR Muslim, dari Amr bin ‘Auf al-Anshariy ra.)
KIAT KITA
Memang manusia diperintahkan untuk bekerja mencari nafkah dan dilarang untuk melupakan kenikmatan dunia (makan, minum, pakaian dan lain-lain). Tetapi kita harus selalu sadar diri akan batasan-batasan:
Bahwa tanpa pertolongan Allah, rizki itu tidak akan kita nikmati. Betapa banyak orang yang bekerja sangat keras dalam hidup, tetapi tidak mendapatkan hasil seperti layaknya orang lain yang bekerja tidak sekeras dia. Mengapa? Karena pada saat itu, demikianlah ketetapan rizki Allah untuknya, sebagai cobaan, apakah dia bersyukur atau tidak (ingatlah, bahwa udara yang kita hirup serta bumi yang kita pijak dan air yang kita minum inipun sepenuhnya dari Allah; apakah kita dapat mensyukurinya?).
Rasulullah SAW bersabda:
“Perhatikanlah orang yang berada di bawahmu dan jangan kamu perhatikan orang yang berada diatasmu, demikianlah yang lebih pantas, agar kamu semua tidak menganggap remeh ni’mat Allah yang dikaruniakan kepadamu” (HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra.)
Bahwa di dalam pekerjaan mencari harta dan nafkah dunia ini sudah ada aturan halal dan haram, yang ditetapkan oleh Allah dan rasul Nya. Takutlah kepada barang yang haram, yang menyebabkan doa kita menjadi tertolak, meskipun kita meminta-minta dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Apalah arti harta dan kerja, bila doa dan ibadah kita ternyata dijamin tidak diterima! Rasulullah SAW menceritakan tentang ….
”orang yang berjalan jauh, kusut dan berdebu, kemudian mengangkat tangannya ke langit dan berdoa: ‘Yaa, Robb. Yaa, Robb’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, tumbuh dari yang haram, bagaimana mungkin doanya terkabul?” (HR Muslim, dari Abu Hurairah ra.)
Bahwa di dalam pemilikan harta di tangan kita, ada hak orang lain, yang haram untuk kita nikmati. Perhatikanlah bahwa orang yang shalat dan shalatnya itu berbuah dalam perilaku sehari-hari, akan menghindari sifat-sifat kikir dan tamak yang tercela:
kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), QS 70:22-25
Jelas sudah sekarang, perlombaan mana yang seharusnya kita ikuti. Perlombaan harta dunia ini tidaklah akan membawa manfaat bila kita melalaikan perlombaan yang sesungguhnya harus diikuti. Dan keluargaku, bagaimanapun juga pelajaran yang kita dapatkan, ilmu yang kita gali, tetap tidak akan bermanfaat apabila kita tidak mendapatkan petunjuk dan perlindungan dari Allah.
Maka dari itu, apapun yang kita dapatkan, apapun yang kita usahakan, mari selalu saling mengingatkan, agar yang utama kita selalu minta ampun, minta perlindungan, minta petunjuk dari Allah.
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. QS 18:17
Wallahu a’lam.
Abi Aslam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar