Senin, 09 Desember 2013

PEMIMPIN PERUBAHAN

MENGAPA PERUBAHAN?

Perubahan adalah proses perpindahan dari suatu posisi ke posisi yang berbeda, dalam hal ini haruslah posisi yang lebih baik. Manusia normal selalu menginginkan posisi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Apakah ini salah? Sama sekali tidak. Karena Allah bahkan menganjurkannya:

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS 13:11

Maka bila manusia sadar akan posisinya, sudah seharusnya ia berusaha untuk memperbaikinya – tentu saja dengan doa dan usaha – sebelum Allah mengabulkan apa yang diusahakannya itu.

PERUBAHAN SEPERTI APA

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang lemah, memiliki banyak kemauan, tetapi terbatas kemampuan. Menganggap dirinya sudah cukup baik, padahal masih kurang. Ini dalam hal tabungan amal akhirat; tetapi dalam hal tabungan duniawi, jangan ditanya lagi. Manusia selalu merasa kurang, sehingga selalu ingin menambahnya.

Maka sebenarnya perubahan kearah yang lebih baik itu ada dua: dalam hal tabungan amalan akhirat dan tabungan dunia. Keduanya harus diusahakan oleh manusia. Namun soal apa arti “baik”, maka kita harus merujuk pada referensi dari Allah:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. QS 2:216

Oleh karena itu, dalam upaya melakukan perubahan kearah yang lebih baik, kita harus mempelajari kembali tujuan dan rencana kita itu, baik dunia maupun akhirat. Apakah langkah-langkah kita itu sudah memenuhi kriteria “baik” menurut Allah atau belum; tentunya referensi kita adalah Kitabullah dan Sunnah Nabi SAW.

Kita dilarang untuk melupakan perbaikan duniawi, tetapi dalam perbaikan ini kita harus selalu berhati-hati, jangan sampai perbaikan duniawi kita justru akan menghancurkan amal akhirat kita; misalnya terjerumus dalam pengadaan materi yang ternyata proses ataupun barangnya diharamkan. Demikian pula dengan amalan ibadah untuk akhirat; hal ini diperintahkan dengan tegas. Dalam upaya inipun – bahkan kita harus lebih berhati-hati lagi, jangan sampai kita termasuk dalam kategori yang merasa untung padahal rugi:

Katakanlah: ”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. QS 18: 103-104.

Bila hal ini terjadi, sungguh rugilah kita. Maka dari itu, mari berlindung kepada Allah dari kerugian semacam ini.
PROSES PERUBAHAN

Lazimnya suatu langkah pengelolaan – baik itu bisnis dunia maupun akhirat, langkah awal dari suatu perubahan adalah selalu mengevaluasi tentang posisi kita:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS 59:18

Salah satu sarana evaluasi amalan akhirat dalam Islam adalah adanya kewajiban shalat 5 waktu. Bahkan di dalam kegiatan evaluasi ini telah ada proses perbaikan atas kesalahan yang telah ada. Rasulullah SAW bersabda:

“ Shalat lima waktu dan satu Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa yang terdapat di antara waktu itu, selama dosa besar tidak dikerjakan.” (HR Muslim, dari Abu Hurairah, ra).

Ajaran ini menunjukkan, bahwa dalam semua usaha, kita harus melakukan evaluasi dan dan tindak perbaikan dari waktu ke waktu. Bukankah dalam usaha dunia kita selalu mengadakan rapat evaluasi, untuk memantau apakah hasil yang dicapai sudah sesuai dengan harapan, kemudian melakukan upaya perbaikan dan peningkatan? Bila untuk usaha dunia yang berdimensi sempit ini kita sudah melakukan evaluasi dan perbaikan, tentunya dalam upaya akhirat kita seharusnya lebih serius dalam evaluasi dan perubahan ini. Karena dampak dari upaya akhirat jauh lebih besar daripada dampak upaya duniawi. Namun yang terjadi adalah lebih banyak manusia yang melakukan evaluasi rutin dalam tindak perbaikan duniawinya daripada upaya akhiratnya. Ini tidak lain merupakan tipuan dunia, dan yang tertipu tidak pandang bulu, kaya-miskin, berpendidikan tinggi atau rendah, pemimpin atau anakbuah…

Sebagai bahan evaluasi akhirat, kita bisa menggunakan banyak ukuran untuk mengetahui sejauh mana amalan kita. Misalnya sebanyak apa kewajiban yang sudah dan belum kita jalankan, sebanyak apa larangan yang sudah kita jauhi dan belum, atau sebanyak apa amalan sunnah yang sudah kita jalankan atau belum. Atau sejauh mana tabungan akhirat telah kita kumpulkan: amal yang terus mengalir, ilmu yang bermanfaat, anak yang shaleh.

Jelas bahwa evaluasi dan perbaikan ini harus dilakukan secara terus-menerus, dan mulai saat ini juga! Karena seluruh upaya kita itu ada batas waktu yang kita tak pernah tahu kapan datangnya; yaitu kematian.

PERUBAHAN LINGKUNGAN SOSIAL

Di samping itu, sebagai makhluk sosial, manusia juga punya kewajiban mengadakan atau paling tidak mempengaruhi terjadinya perubahan lingkungannya kearah yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaknya mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka ubahlah dengan hati, dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR Muslim, dari Abu Sa’id al-Khudri ra.)

Bila kita perhatikan makna hadits diatas, dan mempelajari sejarah perjuangan Rasulullah SAW, kita akan dapati pelajaran sebagai berikut:

Ketika memulai dakwahnya di Makkah dimana umat Islam masih sangat sedikit dan sangat lemah, beliau mengadakan perubahan lingkungan dengan memberikan teladan; kemudian selama umat Islam mulai bertambah namun belum banyak, dimana kemudian beliau hijrah ke Madinah, maka beliau berdakwah dengan lisan. Dan ketika umat Islam telah bertambah banyak dan kuat akibat konsistennya dakwah teladan dan lisan beliau dan para sahabat, kemudian beliaupun memimpin syi’ar Islam dengan menggunakan kekuatan, tanpa meninggalkan dakwah dengan hati dan lisan, seperti yang terjadi ketika penaklukan kota Makkah – dimana beliau memimpin pasukan yang banyak, namun tidak terjadi perang, bahkan banyak amnesty atau pengampunan yang diberikan kepada bekas musuh-musuh Islam. Yang mana dengan kebijaksanaan ini, justru Islam semakin bertambah kuat, karena bekas musuh Islam itupun kemudian menjadi bagian dari kekuatan Islam.

Mari kita renungkan proses perubahan oleh Rasulullah SAW tersebut. Kemudian mari kita segera memulai perubahan dengan diri dan amal kita pribadi, kemudian keluarga kita – dari yang dekat dahulu – kemudian bila memungkinkan, lingkungan kita. Satu hal yang harus selalu kita perhatikan. Orang lain tidak akan mengikuti perubahan yang kita anjurkan, apabila kita tidak memberikan teladan secara konsisten, begitu pula bila kita mengajak kepada kebaikan tetapi dengan kata-kata atau perilaku yang tidak baik…

Wallahu a;lam 
 
ABI ASLAM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger