MENGAPA PERUBAHAN?
Perubahan adalah proses perpindahan dari suatu posisi ke posisi yang berbeda, dalam hal ini haruslah posisi yang lebih baik. Manusia normal selalu menginginkan posisi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Apakah ini salah? Sama sekali tidak. Karena Allah bahkan menganjurkannya:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS 13:11
Maka bila manusia sadar akan posisinya, sudah seharusnya ia berusaha untuk memperbaikinya – tentu saja dengan doa dan usaha – sebelum Allah mengabulkan apa yang diusahakannya itu.
PERUBAHAN SEPERTI APA
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang lemah, memiliki banyak kemauan, tetapi terbatas kemampuan. Menganggap dirinya sudah cukup baik, padahal masih kurang. Ini dalam hal tabungan amal akhirat; tetapi dalam hal tabungan duniawi, jangan ditanya lagi. Manusia selalu merasa kurang, sehingga selalu ingin menambahnya.
Maka sebenarnya perubahan kearah yang lebih baik itu ada dua: dalam hal tabungan amalan akhirat dan tabungan dunia. Keduanya harus diusahakan oleh manusia. Namun soal apa arti “baik”, maka kita harus merujuk pada referensi dari Allah:
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. QS 2:216
Oleh karena itu, dalam upaya melakukan perubahan kearah yang lebih baik, kita harus mempelajari kembali tujuan dan rencana kita itu, baik dunia maupun akhirat. Apakah langkah-langkah kita itu sudah memenuhi kriteria “baik” menurut Allah atau belum; tentunya referensi kita adalah Kitabullah dan Sunnah Nabi SAW.
Kita dilarang untuk melupakan perbaikan duniawi, tetapi dalam perbaikan ini kita harus selalu berhati-hati, jangan sampai perbaikan duniawi kita justru akan menghancurkan amal akhirat kita; misalnya terjerumus dalam pengadaan materi yang ternyata proses ataupun barangnya diharamkan. Demikian pula dengan amalan ibadah untuk akhirat; hal ini diperintahkan dengan tegas. Dalam upaya inipun – bahkan kita harus lebih berhati-hati lagi, jangan sampai kita termasuk dalam kategori yang merasa untung padahal rugi:
Katakanlah: ”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. QS 18: 103-104.
Bila hal ini terjadi, sungguh rugilah kita. Maka dari itu, mari berlindung kepada Allah dari kerugian semacam ini.
Perubahan adalah proses perpindahan dari suatu posisi ke posisi yang berbeda, dalam hal ini haruslah posisi yang lebih baik. Manusia normal selalu menginginkan posisi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Apakah ini salah? Sama sekali tidak. Karena Allah bahkan menganjurkannya:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS 13:11
Maka bila manusia sadar akan posisinya, sudah seharusnya ia berusaha untuk memperbaikinya – tentu saja dengan doa dan usaha – sebelum Allah mengabulkan apa yang diusahakannya itu.
PERUBAHAN SEPERTI APA
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang lemah, memiliki banyak kemauan, tetapi terbatas kemampuan. Menganggap dirinya sudah cukup baik, padahal masih kurang. Ini dalam hal tabungan amal akhirat; tetapi dalam hal tabungan duniawi, jangan ditanya lagi. Manusia selalu merasa kurang, sehingga selalu ingin menambahnya.
Maka sebenarnya perubahan kearah yang lebih baik itu ada dua: dalam hal tabungan amalan akhirat dan tabungan dunia. Keduanya harus diusahakan oleh manusia. Namun soal apa arti “baik”, maka kita harus merujuk pada referensi dari Allah:
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. QS 2:216
Oleh karena itu, dalam upaya melakukan perubahan kearah yang lebih baik, kita harus mempelajari kembali tujuan dan rencana kita itu, baik dunia maupun akhirat. Apakah langkah-langkah kita itu sudah memenuhi kriteria “baik” menurut Allah atau belum; tentunya referensi kita adalah Kitabullah dan Sunnah Nabi SAW.
Kita dilarang untuk melupakan perbaikan duniawi, tetapi dalam perbaikan ini kita harus selalu berhati-hati, jangan sampai perbaikan duniawi kita justru akan menghancurkan amal akhirat kita; misalnya terjerumus dalam pengadaan materi yang ternyata proses ataupun barangnya diharamkan. Demikian pula dengan amalan ibadah untuk akhirat; hal ini diperintahkan dengan tegas. Dalam upaya inipun – bahkan kita harus lebih berhati-hati lagi, jangan sampai kita termasuk dalam kategori yang merasa untung padahal rugi:
Katakanlah: ”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. QS 18: 103-104.
Bila hal ini terjadi, sungguh rugilah kita. Maka dari itu, mari berlindung kepada Allah dari kerugian semacam ini.
