Senin, 09 Desember 2013

PEMIMPIN BERTANGGUNGJAWAB

DEFINISI PEMIMPIN

Rasulullah SAW bersabda:

Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan bertanggungjawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang pemerintah adalah pemimpin manusia dan dia akan bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi ahli keluarganya dan dia akan bertanggungjawab terhadap mereka. Manakala seorang isteri adalah pemimpin rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dia akan bertanggungjawab terhadap mereka. Seorang hamba adalah penjaga harta tuannya dan dia juga akan bertanggungjawab terhadap jagaannya. Ingatlah, kamu semua adalah pemimpin dan akan bertanggungjawab terhadap apa yang kamu pimpin. HR Muslim, dari Ibnu Umar, ra.

Kita akan membahas tanggungjawab pemimpin dalam skala yang terkecil, yaitu pemimpin keluarga. Apakah tanggungjawab utama seorang kepala keluarga? Untuk membahasnya, maka kita harus merujuk kepada hasil akhir yang diharapkan dalam menjalani kehidupan di dunia ini, bahwa tanggungjawab utama seorang kepala keluarga adalah menjauhkan dirinya dan keluarganya dari api neraka:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. QS 66:6

BAGAIMANA CARANYA?

Langkah pertama untuk mencapai surga adalah menjauhkan diri dari dosa yang tak diampuni Allah, yaitu syirik. Maka pelajaran pertama yang seharusnya diberikan kepada anggota keluarganya adalah tauhid, memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Salah satu contoh kepala keluarga terbaik yang direkam di dalam Quran adalah Luqman, ketika memberi wejangan kepada anaknya:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. QS 31:13

Kemudian setelah itu, dengan mempelajari agama Islam melalui Quran dan sunnah Rasul SAW. Allah memastikan bahwa jumlah orang yang mempelajari Quran akan lebih sedikit dari yang mengacuhkannya. Sekali lagi, tipuan dunia telah membuat kebanyakan manusia lalai untuk mempelajari Quran, dan condong kepada pelajaran yang kurang manfaatnya, bahkan kepada hal-hal atau hiburan yang menyesatkan. Padahal Quran telah dimudahkan untuk dipelajari. Allah menjamin hal ini:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? QS 54:17 (juga pada ayat-ayat 22,32 dan 40 di surat yang sama)



MEMBERI NAFKAH

Kemudian setelah itu, seorang kepala keluarga tentu memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya. Bagaimanakah bentuk ‘memberi nafkah ini’?

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. QS 65:7

Tetapi apa yang terjadi? Banyak kepala keluarga yang ‘terpaksa’ memberikan nafkah yang tidak halal kepada anaknya – berarti secara sadar telah mendorong keluarganya untuk memasuki neraka! Ini karena ia lalai memberikan taushiyah kepada dirinya sendiri dan kepada keluarganya, bahwa rizki dari Allah sudah ditetapkan, dan pasti akan diberikan – hanya soal waktu dan bagaimana bentuknya, itu adalah rahasia Allah.

Manusia cenderung tidak sabar, dan tergoda mengikuti godaan syaithan. Karena di samping-sampingnya orang sudah memiliki limpahan harta, maka iapun (dan keluarganya) ingin memilikinya. Kemudian datang pula kesempatan atau wewenang untuk memiliki impiannya, maka terjadilah malapetaka yang semula selalu disangka ni’mat ini.

Padahal janji Allah sudah jelas:

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”. QS 65:2-3

Yang tidak diajarkan dan dilakukan oleh kepala keluarga ini adalah : tidak tawakkal, tidak menyerahkan hasil kepada Allah, tidak meminta jalan keluar kepada Allah.

Mari kita semua pikirkan, bukankah sudah banyak rizki Allah yang datang kepada kita tanpa kita sangka sebelumnya? Bukankah sudah banyak kesulitan yang kita alami, kemudian Allah berikan kemudahan? Tetapi manusia selalu lupa untuk bersyukur. Menyangka bahwa keberhasilannya adalah buah usahanya belaka, lupa bahwa tangan Allah telah membantuNya.

MEMBERI TELADAN

Sebagai rangkaian terakhir, seorang kepala keluarga juga harus mampu memberikan teladan kepada keluarganya. Bahwa apa yang dikatakannya adalah juga apa yang dilakukannya. Anggota keluarga akan melihat sejauh mana pemimpinnya bertindak dengan konsisten. Hal ini telah pula diperingatkan Allah:

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir? QS 2: 44

Apakah sudah cukup? Masih ada lagi. Tidak semua anggota keluarga itu akan tunduk patuh kepada pemimpinnya. Yang lain mungkin akan langsung patuh, namun ada juga yang perlu waktu. Menghadapi hal inipun, Allah telah memerintahkan kepala keluarga untuk bersabar:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS 64:14

Demikian rangkaian ringkas dari tanggungjawab seorang pemimpin, khususnya pemimpin keluarga, sebagai bagian terkecil dari masyarakat yang memiliki pemimpin. Apabila kepemimpinan Islami ini berkembang dalam setiap keluarga, maka sikap ini kelak akan mewarnai masyarakat yang Islami. Dan dengan ini, serta selalu mempelajari ajaran-ajaran Islam lainnya, insya Allah kita dan keluarga kita serta masyarakat kita akan dijauhkan dari azab Allah, dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.
ABI ASLAM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger